Lace-Up Jeans Kembali Viral, Denim Berani Era 2000-an Bangkit Lagi

Lace-Up Jeans Kembali Viral, Denim Berani Era 2000-an Bangkit Lagi

BeautyniqueLace-Up Jeans kembali muncul dalam percakapan fashion 2026 setelah lama identik dengan gaya berani era 2000-an. Detail tali pada sisi, pinggang, atau bagian kaki membuat denim ini jauh dari kesan basic. Who What Wear pada September 2026 bahkan menyorot kemunculan kembali lace-up jeans sebagai salah satu tren Y2K yang sebelumnya dianggap sudah tertinggal. Kebangkitan tersebut sebenarnya masuk akal. Fashion 2026 sedang membuka kembali banyak arsip gaya dari akhir 1990-an hingga 2000-an. Namun, nostalgia kali ini tidak hadir sebagai salinan utuh. Potongan baru lebih beragam, sementara styling-nya terasa lebih terkontrol. Lace-up detail kini dapat ditemukan pada straight-leg, flare, bootcut, hingga wide-leg jeans. Hasilnya adalah denim yang tetap provokatif, tetapi lebih mudah disesuaikan dengan gaya pribadi. Menurut saya, justru kontradiksi itu yang membuatnya menarik. Lace-up jeans terasa nostalgia sekaligus baru, terutama ketika dipadukan dengan pakaian sederhana.

Baca Juga: Bra GRENEY Nyaman Dipakai, Bikin Siluet Dada Terlihat Lebih Seksi

Lace-Up Jeans Pernah Menjadi Simbol Fashion Y2K

Untuk memahami kebangkitannya, kita perlu kembali ke masa ketika fashion pop awal 2000-an tidak takut tampil berlebihan. Denim saat itu hadir dengan low-rise waist, bordir, rhinestone, distressed finish, dan berbagai cut-out. Lace-up jeans masuk dalam bahasa visual yang sama. Detail tali memberi kesan dekoratif sekaligus memperlihatkan sisi tubuh pada desain tertentu. Who What Wear mengaitkan gaya tersebut dengan nama-nama besar budaya pop era itu, termasuk Christina Aguilera, Britney Spears, Paris Hilton, Destiny’s Child, dan Jennifer Lopez. Karena itu, kembalinya model ini membawa memori visual yang sangat kuat. Namun, tren Y2K yang berkembang sekarang tidak selalu mengikuti formula lama secara penuh. Seseorang tidak perlu memakai low-rise ekstrem untuk mendapatkan efek yang sama. Model mid-rise dan high-rise dengan lace-up detail juga tersedia. Perubahan tersebut membuat tren terasa lebih fleksibel. Dengan kata lain, unsur dramatisnya bertahan, tetapi siluetnya dapat bergerak mengikuti kebutuhan fashion modern.

Y2K Masih Memiliki Pengaruh Besar pada Fashion 2026

Kembalinya lace-up denim bukan kejadian yang berdiri sendiri. Fashion 2026 masih memperlihatkan ketertarikan besar terhadap estetika 2000-an. Who What Wear sebelumnya mencatat bahwa Y2K kembali menjadi agenda penting untuk musim panas 2026, mulai dari rhinestone velour hingga camisole berenda dan denim berpotongan rendah. Sementara itu, koleksi Fall 2026 dari 7 For All Mankind membawa inspirasi kuat dari gaya pertengahan 2000-an. Vogue menyebut koleksi tersebut sebagai semacam Y2K fever dream dengan skinny jeans, tas besar, dan referensi kepada It-girls masa itu. Pola tersebut menunjukkan bagaimana fashion terus mendaur ulang periode yang belum terlalu jauh dari ingatan. Menariknya, generasi yang dahulu mengenakan Y2K kini bertemu generasi baru yang mengenalnya melalui arsip digital. Akibatnya, sebuah jeans lama dapat memperoleh interpretasi berbeda. Lace-up jeans menjadi contoh bagus tentang bagaimana nostalgia berubah menjadi bahan eksperimen.

Bella Hadid Ikut Menghidupkan Kembali Denim Era Y2K

Pergerakan tren denim juga mendapat dorongan dari figur fashion kontemporer. Pada Maret 2026, Vogue menyorot ketertarikan Bella Hadid terhadap denim bergaya Y2K. Ia bahkan meluncurkan kolaborasi 35-piece dengan Miss Sixty, sebuah label yang sangat identik dengan denim era 2000-an. Dalam penampilannya, Hadid memainkan berbagai bentuk denim, termasuk bootcut dengan sedikit flare. Who What Wear kemudian memasukkan Hadid ketika membahas kemunculan kembali lace-up jeans pada musim ini. Kehadiran figur seperti Hadid penting karena tren fashion sering mendapatkan momentum ketika pakaian arsip diterjemahkan menjadi styling kontemporer. Namun, pengaruh selebritas bukan satu-satunya faktor. Media sosial juga mempercepat proses tersebut. Sebuah detail yang dahulu dianggap terlalu ramai dapat muncul kembali setelah dipadukan dengan tank top sederhana atau blazer minimalis. Karena itu, kebangkitan lace-up denim lebih tepat dibaca sebagai bagian dari siklus nostalgia yang lebih luas.

Model Baru Tidak Selalu Menggunakan Low-Rise Ekstrem

Bayangan pertama tentang lace-up jeans mungkin langsung menuju low-rise denim yang sangat rendah. Padahal, versi 2026 jauh lebih beragam. Who What Wear menampilkan pilihan mulai dari high-rise flare hingga mid-rise straight-leg, wide-leg, bootcut, dan relaxed straight jeans. Variasi tersebut menjadi perkembangan penting karena membuat detail tali tidak bergantung pada satu bentuk tubuh atau satu gaya. Model high-rise flare, misalnya, dapat menghadirkan karakter retro tanpa mengekspos pinggang terlalu rendah. Sementara itu, straight-leg dengan tali di sisi kaki memberikan statement melalui detail, bukan potongan ekstrem. Bahkan model wide-leg dapat menggabungkan volume modern dengan elemen Y2K. Perubahan ini menunjukkan bagaimana tren lama biasanya beradaptasi ketika kembali. Desainer dan retailer mengambil elemen yang mudah dikenali, kemudian menempatkannya pada siluet yang sedang relevan. Hasilnya bukan kostum tahun 2002. Sebaliknya, kita mendapatkan denim modern dengan sedikit keberanian dari masa tersebut.

Detail Tali Mengubah Jeans Menjadi Statement Piece

Jeans biasanya berfungsi sebagai fondasi pakaian. Lace-up jeans membalik konsep tersebut. Detail tali membuat denim menjadi pusat perhatian sehingga pakaian lain tidak perlu terlalu ramai. Prinsip styling ini membantu membuat tren Y2K terasa lebih dewasa. Sebuah lace-up denim dapat dipadukan dengan T-shirt putih, tank top polos, kemeja sederhana, atau knitwear ringan. Kemudian, sepatu dan aksesori dapat mengikuti karakter yang ingin dibangun. Boots memberikan kesan western, sementara loafers membuat tampilannya lebih rapi. Heels dapat mengangkat flare lace-up jeans menjadi gaya malam yang lebih kuat. Menurut saya, kesalahan yang mudah terjadi adalah memasukkan terlalu banyak referensi Y2K dalam satu outfit. Lace-up detail sudah memiliki informasi visual yang cukup besar. Karena itu, keseimbangan justru membuat desainnya terlihat lebih mahal. Pendekatan tersebut juga sejalan dengan arah fashion 2026 yang menempatkan individualitas dan statement detail sebagai bagian penting dalam berbusana. Buyer fashion untuk Fall 2026 turut menyoroti tekstur, karakter, dan elevated basics.

Denim 2026 Tidak Bergerak dalam Satu Arah

Meski lace-up jeans sedang mendapatkan perhatian, tidak berarti semua tren denim sekarang menuju gaya maksimalis. British Vogue mencatat bahwa straight-leg dan high-waisted jeans tetap menjadi bagian penting dari tren denim 2026. Khaite, misalnya, menghadirkan straight denim berwarna dark blue, sementara Celine mengeksplorasi bentuk yang lebih dekat ke tubuh. Pada sisi lain, skinny jeans juga menunjukkan tanda kebangkitan. Vogue mencatat koleksi Fall 2026 dari 7 For All Mankind membawa ultra-skinny jeans sebagai penghormatan terhadap pertengahan 2000-an. Valentino juga menghadirkan skinny jeans dengan lace trim. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satu bentuk jeans yang sepenuhnya menguasai musim ini. Justru, denim 2026 bergerak melalui banyak referensi sekaligus. Lace-up jeans berada di sisi yang lebih ekspresif dari spektrum tersebut. Konsumen yang menyukai denim klasik tetap memiliki banyak pilihan. Sementara itu, mereka yang ingin sesuatu lebih eksperimental mendapat ruang untuk mencoba detail tali.

Nostalgia Kini Bersaing dengan Kebutuhan Akan Kenyamanan

Tidak semua elemen Y2K kembali dengan kekuatan yang sama. Who What Wear pada awal 2026 bahkan menilai ultra-low-rise mulai kehilangan momentum dibandingkan mid-rise yang lebih mudah digunakan sehari-hari. Hal ini menunjukkan satu batas penting dari nostalgia fashion. Konsumen mungkin menyukai tampilannya, tetapi kenyamanan tetap menentukan apakah sebuah tren dapat bertahan. Lace-up jeans memiliki peluang lebih baik karena detail tali dapat diterapkan tanpa mempertahankan seluruh formula Y2K. Mid-rise straight jeans dengan lace-up detail, misalnya, dapat terasa jauh lebih praktis daripada model ultra-low-rise dengan cut-out besar. Demikian pula, wide-leg dan flare memberikan ruang gerak yang lebih nyaman. Adaptasi seperti inilah yang membuat tren lama relevan kembali. Fashion tidak harus memilih antara nostalgia dan fungsi. Desain yang baik dapat mengambil elemen visual paling menarik dari masa lalu, kemudian memperbaiki bagian yang kurang praktis. Karena itu, kebangkitan lace-up denim tidak harus berarti kembali sepenuhnya ke aturan berpakaian tahun 2000.

Lace-Up Jeans Cocok untuk Gaya Minimalis hingga Western

Salah satu keunggulan lace-up jeans versi sekarang adalah fleksibilitas styling. Tali berwarna kontras dapat memberikan nuansa western ketika dipadukan dengan boots dan belt kulit. Sebaliknya, tali senada dengan denim membuat efeknya lebih halus. Untuk gaya minimalis, pilih atasan tanpa banyak detail dan biarkan konstruksi jeans menjadi fokus. Jika ingin membawa nuansa Y2K lebih jauh, fitted top, shoulder bag, dan sunglasses ramping dapat memberikan referensi yang jelas tanpa terlihat seperti kostum. Sementara itu, blazer dapat menciptakan kontras menarik antara tailoring yang rapi dan denim yang eksperimental. Pilihan wash juga berpengaruh. Light-wash terasa lebih dekat dengan nostalgia 2000-an, sedangkan indigo gelap dapat terlihat lebih modern. Pada 2026, fashion memang tidak hanya menghidupkan Y2K. Tren denim juga mencakup referensi ’80-an, ’90-an, straight-leg, cropped, dan distressed styles. Karena itu, lace-up jeans dapat diperlakukan sebagai elemen individual, bukan aturan outfit secara keseluruhan.

Lace-Up Jeans Membuktikan Siklus Fashion Tidak Pernah Benar-Benar Berhenti

Kebangkitan Lace-Up Jeans menjadi contoh menarik tentang bagaimana fashion mengubah sesuatu yang pernah dianggap ketinggalan zaman menjadi relevan kembali. Pada September 2026, Who What Wear secara khusus mencatat kemunculan lace-up denim sebagai tren Y2K yang kembali terlihat di fashion scene. Namun, bentuknya tidak lagi terbatas pada low-rise jeans ekstrem seperti awal 2000-an. High-rise flare, mid-rise straight, bootcut, hingga wide-leg kini dapat membawa detail yang sama. Perubahan tersebut membuat tren lebih mudah diterjemahkan ke berbagai gaya. Pada saat bersamaan, kebangkitan skinny jeans, bootcut, distressed denim, dan referensi era lain menunjukkan bahwa 2026 tidak memiliki satu formula denim tunggal. Justru, pilihan semakin personal. Lace-up jeans menawarkan opsi bagi mereka yang ingin denim menjadi lebih dari sekadar pakaian dasar. Detail talinya membawa nostalgia, tetapi cara memakainya dapat terasa sepenuhnya modern. Itulah alasan tren ini layak diperhatikan: bukan karena masa lalu kembali persis sama, melainkan karena fashion menemukan cara baru untuk memakainya.